Aksi Curanmor di Surabaya Terungkap Lewat CCTV, Jatanras Polrestabes Surabaya Amankan Dua Terduga Pelaku

 

SURABAYA, Cakrawalajatim.news –Unit Jatanras Polrestabes Surabaya bekuk dua pelaku pencurian motor (Curanmor) yang kerap beraksi diwilayah Surabaya.

Terhadap Dua pelaku tersebut, bukan hanya ditangkap mereka juga dihadiahi timah panas pada bagian kaki.

Informasi penangkapan tersebut terungkap melalui video yang diunggah akun Jatanras Surabaya pada Rabu (14/10). Dalam tayangan itu, turut disisipkan rekaman kamera pengawas (CCTV) yang sebelumnya diunggah oleh akun wongjowo86, yang memperlihatkan dugaan aksi pencurian kendaraan bermotor.

Kedua pria tersebut terlihat tiba di Mapolrestabes Surabaya menggunakan mobil. Saat turun dari kendaraan, keduanya berjalan tertatih-tatih sambil menahan rasa sakit pada bagian kaki.

Kondisi tersebut memunculkan dugaan bahwa keduanya mengalami luka tembak saat proses penangkapan. Namun, hingga kini belum ada keterangan resmi dari kepolisian mengenai penyebab luka maupun kronologi penangkapan kedua terduga pelaku tersebut.

Salah satu aksinya yakni terekam gasak motor Beat Hitam nopol S 2694 EAB diparkiran optik jalan HR Muhamad pada, Jumat (29/5) lalu.

Ketika beraksi dan terekam CCTV keduanya datang ke parkiran yang dalam keadaan sepi dengan mengendarai satu motor Vario berhelm hitam dan oranye serta berjaket.

Identitas Pelaku dan Dugaan Lokasi Pencurian Masih Didalami

Hingga berita ini ditulis, identitas kedua pria yang diamankan belum diketahui secara pasti. Polisi juga belum menyampaikan keterangan resmi terkait jumlah kendaraan yang diduga telah dicuri maupun lokasi kejadian yang berkaitan dengan perkara tersebut.

Keduanya diduga masih menjalani pemeriksaan intensif oleh penyidik untuk mendalami keterlibatan mereka dalam dugaan aksi curanmor di wilayah Surabaya.

Pemeriksaan tersebut juga diperlukan untuk mengungkap kemungkinan adanya tempat kejadian perkara (TKP) lain, termasuk menelusuri kendaraan yang diduga menjadi sasaran pencurian.

Apabila dugaan keterlibatan keduanya terbukti, pengembangan perkara diharapkan dapat mengungkap rangkaian aksi pencurian kendaraan bermotor yang selama ini meresahkan masyarakat.

Meski demikian, hingga ada penjelasan resmi dari kepolisian, informasi mengenai identitas, modus operandi, jumlah barang bukti, serta dugaan tindakan tegas terukur terhadap keduanya masih perlu dikonfirmasi.

Dua Pengedar Pandean Peneleh Ditangkap Polrestabes Surabaya, Polisi Menyita Lima Poket Sabu

SURABAYA, Cakrawalajatim.news – Dua pria yang diduga terlibat peredaran narkotika jenis sabu di kawasan Pandean, Peneleh, Kecamatan Genteng, Surabaya ditangkap Satresnarkoba Polrestabes Surabaya.

Pelaku yang tinggal dilokasi kejadian itu berinisial HR dan MA dengan barang bukti lima kantong plastik berisi sabu seberat total netto sekitar 0,488 gram.

Berawal dari informasi warga, penangkapan dilakukan pada Jumat (9/10/2026) sekitar pukul 22.00 WIB. Pengungkapan ini bermula dari upaya petugas menelusuri aktivitas peredaran narkotika di wilayah Kota Surabaya.

Kasat Resnarkoba Polrestabes Surabaya AKBP Dodi Pratama SIK menjelaskan, pada saat anggota melakukan penggeledahan di rumah HR, petugas menemukan lima kantong plastik berisi sabu yang disimpan di dalam dompet kain berwarna putih. Dompet tersebut berada di bawah kursi di salah satu kamar rumah tersangka.

“Selain sabu, anggota kami turut menyita satu unit timbangan elektrik dan satu buah telepon seluler yang diduga berkaitan dengan aktivitas para tersangka,” jelas AKBP Dodi, Jumat (16/10/2026).

HR Mengaku Mendapat Pasokan Sabu dari MA

Berdasarkan keterangan HR ke anggota, sabu yang ditemukan petugas tersebut diperoleh dari MA. Penyerahan barang haram itu disebut berlangsung pada Jumat (9/10/2026) sekitar pukul 19.30 WIB, di rumah HR yang berada di kawasan Pandean, Peneleh, Kecamatan Genteng, Surabaya.

“HR ini mengaku membeli sabu untuk dijual kembali kepada orang lain. Namun, sebagian barang tersebut juga digunakan untuk konsumsi pribadi,” tambah AKBP Dodi.

Dalam menjalankan aktivitasnya, HR disebut mengedarkan sabu kepada orang-orang yang telah dikenalnya. Para pembeli datang langsung ke rumahnya dan melakukan pembayaran secara tunai.

Tiga Kali Membeli Sabu Sejak September 2026

Dari hasil pemeriksaan, HR mengaku telah membeli sabu sebanyak tiga kali sejak September 2026.

Ia juga mengungkapkan bahwa keuntungan yang diperoleh tidak hanya berupa kesempatan mengonsumsi sabu secara gratis. Apabila barang dagangan terjual habis, HR mengaku bisa mendapatkan keuntungan sekitar Rp200.000 hingga Rp350.000 untuk setiap setengah gram sabu.

“Untuk mendapatkan untung lebih banyak. uang hasil penjualan tersebut kemudian digunakan kembali untuk membeli sabu yang akan diedarkan,” tambah Kasat.

Terancam Hukuman Pidana Penjara hingga 20 Tahun

Atas dugaan perbuatannya, kedua tersangka dijerat dengan sejumlah ketentuan hukum terkait tindak pidana narkotika.

Pasal yang disangkakan meliputi Pasal 114 ayat (1) Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika juncto Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana, juncto Pasal 132 ayat (1) UU Narkotika, dan/atau Pasal 609 ayat (1) huruf a UU RI Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana.

Ruang Perlindungan Perempuan Disorot! Dugaan Pelecehan Martabat AI di Unit PPA Polres Sampang Dilaporkan ke Propam

SAMPANG, Cakrawalajatim.news – Ironi pahit diduga terjadi di ruang yang seharusnya paling aman bagi perempuan.

Seorang perempuan berinisial AI, anak dari pensiunan polisi dengan riwayat gangguan mental sejak Februari 2026, yang berstatus sebagai terlapor di Unit PPA, diduga mengalami rangkaian perlakuan tidak menyenangkan, pada tanggal 8 Oktober 2026.

Semua bermula bahkan sebelum ia tahu dirinya menstruasi. Saat hendak meminta izin sholat, menurut kesaksian keluarga, ia justru tidak diizinkan dan malah diolok: _”Sok mau sholat tapi berbuat seperti itu.”_

Rangkaian dugaan itu berlanjut hingga proses visum di RS. Dalam kondisi cemas, korban sempat bertanya kepada petugas Polwan.

_”Mbak itu warna coklat nggak ya,”_ tanya korban.

_”Nggak mbak,”_ jawab polwan.

_”Oh iya takut saya mens,”_ balas korban lirih.

Kecemasannya terbukti. Setelah buang air kecil, keluar lendir berwarna merah. Barulah ia tahu dirinya sedang menstruasi.

Di titik itulah puncak dugaan penghinaan terjadi. Korban diduga diminta melepas celana dalamnya selama pemeriksaan dan celana itu tidak segera dipakaikan kembali. Lebih jauh, barang privat tersebut diduga dipertontonkan ke penyidik lain di dalam ruangan.

Kutipan kesaksian korban menurut keluarga: _”Celana dalam ku ditunjukkan ke semua penyidik di dalam Ruangan. Ini warna apa, warna apa. Putih yaa. Ohh warnanya putih polkadot ungu. Aku perempuan terlapor di dalam sendirian, bahkan polwan nya pun ikut tertawa.”_

Sebelumnya, di ruang yang sama, saat korban diduga mengalami mental breakdown hingga 2 kali mencoba bunuh diri, oknum penyidik diduga melontarkan ucapan: _”Yuk minum Wipol yuk.”_

Dari yang dilarang sholat, hingga menjadi bahan olok-olok polkadot ungu.

Atas dugaan kejadian tersebut, keluarga korban menyatakan telah melaporkan secara resmi ke Bid Propam Polda Jawa Timur dan Yanduan Div Propam Mabes Polri. Laporan disebut dilengkapi visum RS dan kesaksian lengkap.

Hingga berita ini diturunkan, Unit PPA polres sampang belum merespon dan masih dalam upaya konfirmasi. Asas praduga tak bersalah tetap dikedepankan dan semua pihak memiliki hak jawab.

Polsek Pabean Cantikan Amankan DPO Pencuri 14 Bollard Di Kawasan Kembang Jepun

SURABAYA, Cakrawalajatim.news – Polsek Pabean Cantikan Polres Pelabuhan Tanjung Perak menangkap seorang pria berinisial NK (36) yang terlibat dalam pencurian bollard atau pembatas trotoar milik Pemerintah Kota Surabaya. Barang-barang tersebut dilaporkan hilang dari kawasan Jalan Kembang Jepun, dengan total kerugian ditaksir mencapai Rp22 juta.

NK ditangkap Unit Reskrim Polsek Pabean Cantikan pada Senin (12/10/2026). Penangkapan ini merupakan hasil pengembangan dari laporan pencurian yang terjadi pada Rabu (23/9) di trotoar Jalan Kembang Jepun, Kelurahan Bongkaran, Pabean Cantikan Surabaya.

Kapolsek Pabean Cantikan Kompol Eko Adi Wibowo melalui Kasi Humas Iptu Suroto menjelaskan, bollard berbahan besi cor itu dicuri oleh NK bersama rekannya berinisial EP. Yang lebih dahulu ditangkap pada (24/9/2026).

Menurut keterangan Iptu Suroto, para pelaku membongkar bagian semen dan baut yang menahan bollard hingga terlepas dari tempatnya. Bollard tersebut kemudian diangkut menggunakan becak motor.

“Dari pencurian tersebut Pemkot Surabaya kehilangan sebanyak 14 bollard. Kehilangan fasilitas umum itu diperkirakan menimbulkan kerugian sekitar Rp22 juta,” tutur Iptu Suroto, pada Selasa (13/10).

Dari kasus tersebut , polisi mengamankan sejumlah barang bukti berupa satu linggis sepanjang sekitar 60 sentimeter, satu palu bodem.

Pelaku NK disangkakan melakukan pencurian dengan pemberatan sebagaimana Pasal 477 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

Kades Sidomulyo Berstatus Narapidana Diduga Masih Berseragam Dinas saat Berfoto dengan Bupati Demak, SK Pemberhentian Dipertanyakan

DEMAK, Cakrawalajatim.news — Keberadaan Kepala Desa Sidomulyo, Kecamatan Dempet, Kabupaten Demak, berinisial M Asik, menjadi sorotan setelah beredar informasi dan foto yang memperlihatkan dirinya berfoto bersama Bupati Demak dan sejumlah staf Pemerintah Kabupaten Demak.

Foto tersebut disebut diambil di Kantor Kecamatan Dempet. Dalam foto itu, M Asik tampak mengenakan seragam dinas harian (PDH) berwarna khaki yang identik dengan pakaian dinas aparatur pemerintahan.

Persoalan ini menjadi perhatian karena M Asik disebut telah berstatus sebagai narapidana. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan publik mengenai status jabatannya sebagai kepala desa serta tindak lanjut administratif yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah daerah.

Sorotan lainnya adalah belum adanya informasi resmi mengenai penerbitan Surat Keputusan (SK) pemberhentian terhadap yang bersangkutan. Hingga informasi ini disusun, belum diperoleh konfirmasi resmi apakah SK pemberhentian telah diterbitkan atau masih dalam proses.

Publik pun mempertanyakan bagaimana status kepegawaian dan jabatan kepala desa tersebut ditangani, termasuk dasar penggunaan seragam dinas dalam kegiatan yang melibatkan kepala daerah dan jajaran pemerintah kabupaten.

Secara hukum, status seorang kepala desa yang telah dijatuhi putusan pidana berkekuatan hukum tetap perlu ditelaah berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pemberhentian kepala desa tidak dapat disimpulkan hanya berdasarkan foto atau informasi yang beredar, melainkan harus merujuk pada status hukum, jenis tindak pidana, putusan pengadilan, serta prosedur administrasi yang berlaku.

Karena itu, Pemerintah Kabupaten Demak, khususnya Bupati Demak dan perangkat daerah terkait, perlu memberikan penjelasan terbuka mengenai status jabatan M Asik, proses administrasi pemberhentian apabila memenuhi ketentuan, serta alasan yang mendasari belum adanya informasi resmi terkait SK tersebut.

Klarifikasi juga diperlukan dari pihak Kecamatan Dempet mengenai konteks pengambilan foto, waktu kegiatan, dan kapasitas M Asik saat berada di kantor kecamatan dengan mengenakan seragam dinas.

Hingga berita ini diterbitkan, keterangan resmi dari Bupati Demak maupun pihak Kecamatan Dempet mengenai persoalan tersebut masih perlu diperoleh. M Asik dan pihak-pihak terkait tetap memiliki hak untuk memberikan penjelasan atau tanggapan atas informasi yang menjadi sorotan publik.

Masyarakat berharap pemerintah daerah memberikan kepastian hukum dan transparansi administrasi agar tidak menimbulkan spekulasi berkepanjangan mengenai status jabatan kepala desa tersebut.

Dilansir dari Media TargetNews.id

Putusan MA Batalkan Perolehan Aset, Status Lahan 7 Hektare Yayasan Kisma Wisma di Surabaya Masih Berpolemik

‎Surabaya, Cakrawalajatim.news — Sejak puluhan tahun, kawasan seluas 7 hektar di Rungkut Asri Tengah dan Rungkut Asri Timur, Surabaya, dikenal sebagai milik Yayasan Kisma Wisma. Namun saat ini status kepemilikannya tercatat atas nama PT. Ferry Indonesia Corporation — padahal tidak pernah terjadi kesepakatan jual beli antara kedua belah pihak.
‎
‎Yayasan Kisma Wisma telah hadir di tengah masyarakat sejak tahun 1975. Kini kedudukannya diperkuat dengan status badan hukum resmi berdasarkan Keputusan Menteri Hukum dan HAM RI Nomor AHU-0010785.AH.01.12.TAHUN 2024, beralamat di Sedati, Sidoarjo.
‎
‎Jalur hukum telah ditempuh hingga ke tingkat tertinggi. Mahkamah Agung RI melalui Putusan Nomor 2198 K/Pdt/2014 tanggal 22 September 2015 telah secara tegas membatalkan perolehan aset tersebut oleh PT. Ferry Indonesia Corporation — mengukuhkan putusan Pengadilan Tinggi Surabaya dan Pengadilan Negeri Surabaya sebelumnya.
‎
‎Namun di lapangan, penyelesaiannya belum selesai.
‎
‎Ketua Pengurus Yayasan Kisma Wisma, Koes Bandono, S.Pd., menyampaikan kepada awak media bahwa pihaknya tidak pernah berniat melepaskan tanah tersebut.
‎
‎”Tanah ini bukan barang dagangan. Sejak awal, tujuannya jelas: untuk kepentingan sosial dan kemasyarakatan. Saya tidak pernah menandatangani dokumen penjualan atas tanah ini kepada pihak mana pun,” ungkap Koes Bandono.
‎
‎Diceritakan bahwa rencana besar di atas lahan tersebut adalah membangun masjid umum yang luas serta pondok pesantren modern — fasilitas yang diakui sangat dibutuhkan warga sekitar. Oleh karena itu, yayasan memohon pengertian warga yang tanpa sengaja telah membeli sebagian lahan tersebut agar dapat mengembalikannya demi tujuan yang lebih luas.
‎
‎”Kami memohon pengertian warga. Semoga masalah ini dapat diselesaikan dengan baik dan secepatnya, agar kita bisa mewujudkan pembangunan yang bermanfaat bagi semua,” harap Koes Bandono.

Tidak Ada Lagi Postingan yang Tersedia.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.