Cakrawala Jatim News

Sikap Bungkam Polres Jombang Terkait Pencurian Kabel Telkom, Kapolda Jatim Dan Kapolri Diminta Pilih SDM Polisi Baik di Jombang

Jombang, Cakrawalajatim.news – Sikap Polres Jombang yang dinilai belum memberikan keterbukaan terkait sejumlah persoalan hukum di wilayahnya menuai sorotan dari Suhaili, Ketua DPC Surabaya KPK Nusantara. Ia menilai, minimnya penjelasan kepada publik berpotensi memunculkan beragam stigma dan mempertanyakan komitmen transparansi serta profesionalitas aparat penegak hukum.

Menurut Suhaili, situasi tersebut menjadi ujian nyata bagi Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto dan Kapolda Jawa Timur yang baru, Irjen Pol Dekananto Eko Purnomo, dalam memastikan pelaksanaan tugas kepolisian berjalan sesuai prinsip integritas, profesionalitas, dan akuntabilitas.

“Integritas Polri dipertanyakan. Mampukah Kapolri melalui Kapolda Jatim yang baru bersikap tegas dan merombak jajaran Polres Jombang, atau slogan ‘Polisi untuk Masyarakat’ hanya menjadi sebuah slogan?” ujar Suhaili

Ia menyayangkan apabila persoalan yang menjadi perhatian masyarakat tidak disertai penjelasan yang memadai dari pihak kepolisian. Menurutnya, keterbukaan informasi sangat diperlukan agar masyarakat mengetahui sejauh mana proses penanganan perkara yang menjadi perhatian publik.

Suhaili menegaskan, kritik tersebut bukan semata-mata untuk menyudutkan institusi Polri, melainkan sebagai dorongan agar aparat penegak hukum mampu menunjukkan tanggung jawab dan memberikan kepastian kepada masyarakat.

Soroti Dugaan Sejumlah Kasus di Jombang

Suhaili menyebut setidaknya ada beberapa persoalan yang menurutnya perlu mendapat perhatian serius, di antaranya maraknya dugaan pencurian kabel Telkom di wilayah Jombang, informasi mengenai dugaan pelepasan terduga pelaku narkotika di wilayah Polsek Peterongan yang disebut-sebut disertai permintaan imbalan, serta belum jelasnya perkembangan penanganan kasus dugaan pencurian toko aki di Jombang.

Atas berbagai persoalan tersebut, KPK Nusantara meminta Kapolda Jawa Timur melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja jajaran Polres Jombang, termasuk pejabat yang dinilai perlu dimintai pertanggungjawaban atas penanganan perkara dan komunikasi kepada publik.

Terkait dugaan permintaan imbalan dalam perkara narkotika, Suhaili mendorong agar informasi tersebut diperiksa secara objektif oleh pihak berwenang. Apabila ditemukan bukti pelanggaran, ia meminta agar proses penindakan dilakukan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

“Buktikan kepada masyarakat bahwa Polri masih menjunjung tinggi integritas. Kami meminta agar jajaran yang terbukti tidak profesional dalam menjalankan tugas dievaluasi dan ditindak sesuai aturan. Jangan sampai masyarakat kehilangan kepercayaan karena persoalan yang tidak mendapat penjelasan secara terbuka,” tegasnya.

Kapolri dan Kapolda Jatim Diminta Beri Respons

Lebih lanjut, Suhaili berharap pimpinan Polri memberikan perhatian terhadap berbagai keluhan masyarakat di Jombang. Menurutnya, evaluasi institusi harus didasarkan pada fakta, hasil pemeriksaan, serta bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.

Ia juga meminta agar perkembangan penanganan dugaan pencurian kabel Telkom dan kasus toko aki disampaikan secara proporsional kepada publik, sepanjang tidak mengganggu proses penyelidikan maupun penyidikan.

Suhaili menilai, penanganan laporan masyarakat yang transparan dan profesional merupakan bagian penting dalam mewujudkan slogan “Polisi untuk Masyarakat”.

Hingga berita ini disusun, pernyataan dan tuntutan Suhaili tersebut perlu dikonfirmasi lebih lanjut kepada pihak Polres Jombang, Polsek Peterongan, serta jajaran Polda Jawa Timur. Klarifikasi resmi dari pihak-pihak terkait diperlukan untuk memperoleh gambaran utuh mengenai perkembangan setiap perkara dan memastikan seluruh dugaan diperiksa secara adil sesuai hukum.

Masyarakat pun berharap setiap laporan ditindaklanjuti secara profesional, tanpa tebang pilih, sehingga kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian dapat terjaga.

@⁨Ketua Jawara Bersatu Suhaili⁩

Mulai Sembrono, PLN Sampang Kurang Kopi Padamkan Listrik Seharian Tanpa Pemberitahuan, Sampai Warga Kecewa

SAMPANG, Cakrawalajatim.news – Warga Dusun Sorak, Kelurahan Beringin, Kecamatan Tambelangan, Kabupaten Sampang, berharap pihak PLN segera melakukan pengecekan dan memberikan penjelasan terkait pemadaman listrik yang terjadi berulang kali di wilayah tersebut.

Masyarakat meminta PLN segera mengidentifikasi penyebab gangguan pasokan listrik yang terjadi beberapa kali dalam sehari. Kondisi tersebut dinilai mengganggu aktivitas sehari-hari dan menimbulkan kekhawatiran di kalangan warga.(13/10/26).

Selain mengganggu kenyamanan, pemadaman listrik yang berulang juga dikhawatirkan dapat berdampak pada peralatan elektronik rumah tangga. Salah satu yang menjadi perhatian warga adalah perangkat Wi-Fi yang digunakan untuk menunjang komunikasi, pekerjaan, serta berbagai aktivitas lainnya.

Warga berharap pihak PLN tidak mengabaikan keluhan tersebut dan segera melakukan pemeriksaan terhadap jaringan maupun instalasi listrik yang diduga mengalami gangguan.

 

Masyarakat juga meminta agar PLN memberikan informasi yang jelas mengenai penyebab pemadaman serta langkah penanganan yang akan dilakukan, sehingga warga tidak terus-menerus merasa khawatir terhadap kondisi pasokan listrik di wilayah mereka.

Warga Dusun Sorak berharap adanya respons cepat dan tindakan nyata dari pihak PLN agar pasokan listrik kembali stabil, sehingga aktivitas masyarakat dapat berjalan dengan aman dan lancar.

Hingga berita ini diterbitkan, warga berharap pihak PLN segera memberikan tanggapan dan melakukan pengecekan langsung di lokasi untuk memastikan penyebab gangguan listrik tersebut.

 

(Red)

Kasus Dugaan Hubungan Terlarang di Sampang Disorot, Kapolri Diminta Usut Tuntas Dugaan Kejanggalan Penyelidikan di Polres Sampang

SAMPANG, Cakrawalajatim.News – Kasus dugaan hubungan terlarang yang menyeret oknum Kepala Puskesmas Robatal berinisial B dan berinisial AI terus bergulir di Polres Sampang. Namun, pihak terlapor menyoroti banyaknya kejanggalan selama proses penyelidikan.

Pihak terlapor mengungkapkan adanya dugaan intimidasi selama pemeriksaan di Unit PPA Polres Sampang.

“Saya merasa tertekan. Ada penyampaian dari oknum penyidik yang sesumbar, jika saksi terlapor ini sudah pasti akan dipenjara. Bahkan disebut ‘jika tidak dipenjara dia akan pensiun dini’,” ungkap pihak terlapor, Kamis (9/10/2026).

Tak hanya intimidasi verbal, pihak terlapor juga mengeluhkan kurangnya privasi dan dugaan bullying oleh anggota kepolisian selama proses penyelidikan.

“Selama proses penyelidikan, kami merasa tidak ada privasi. Prosesnya seperti di-bully, dipermalukan di depan umum. Padahal ini masih tahap penyelidikan, belum ada penetapan tersangka. Kami ini seperti sudah divonis bersalah,” tegasnya.

Bahkan, pihak terlapor mengaku dipaksa untuk mengakui perbuatan yang tidak pernah dilakukannya.

“Saya dipaksa mengakui oleh penyidik. Padahal saya sudah jelaskan sesuai fakta. Hasil visum saya sendiri negatif, tidak ada bukti perselingkuhan atau perzinahan seperti yang dituduhkan. Tapi saya terus didesak untuk mengaku,” ungkapnya dengan nada keberatan.

Menurutnya, sikap tersebut melanggar asas praduga tak bersalah dan profesionalisme Polri. “Yang berhak menyatakan bersalah itu pengadilan, bukan penyidik.”

Selain itu, pihak terlapor menyoroti aksi pelapor berinisial F yang merupakan ASN Pemkab Bangkalan, yang dinilai lalai tugas.

“Pelapor ini ASN Bangkalan, tapi jam kerja malah bolos dan mendatangi Puskesmas Robatal bersama Babinsa dan polisi untuk membuat kegaduhan. Puskesmas itu area pelayanan vital, jangan sampai pelayanan masyarakat terganggu karena masalah personal,” ungkapnya.

Atas rentetan dugaan kejanggalan tersebut, pihak terlapor menegaskan telah mengambil langkah hukum.

“Kami sudah melaporkan kinerja anggota PPA kepolisian Polres Sampang terkait kasus ini ke Bid Propam Polda Jatim. Kami berharap Polda Jatim turun tangan mengevaluasi proses penyelidikan yang kami nilai tidak profesional dan tidak menjaga privasi terlapor,” pungkasnya.

Hingga berita ini diturunkan, Kasat Reskrim Polres Sampang Iptu Nur Fajri dan beberapa pihak terkait masih dikonfirmasi.

Kuasa Hukum Pemohon Sampaikan Replik, Pemeriksaan Praperadilan di Pati Berlanjut

PATI, Cakrawalajatim.news — Tim kuasa hukum Pemohon menyampaikan replik dalam sidang ketiga praperadilan di Pati. Agenda tersebut menjadi kesempatan bagi pihak Pemohon untuk menanggapi jawaban Termohon yang telah disampaikan pada persidangan sebelumnya.

Dalam persidangan tersebut, Izzudin Arsalan, S.H., M.H., selaku kuasa hukum Pemohon, berharap seluruh pihak dapat menghormati proses hukum yang sedang berjalan serta memberikan ruang bagi masing-masing pihak untuk menyampaikan argumentasi berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku.

Menurut Izzudin, praperadilan merupakan mekanisme hukum yang dapat ditempuh untuk menguji persoalan tertentu dalam proses penegakan hukum. Oleh karena itu, seluruh pihak diharapkan menghormati setiap tahapan persidangan.

“Praperadilan ini adalah bagian dari upaya Pemohon yang dijamin konstitusi. Kami berharap setiap pihak dapat menghormati proses praperadilan ini,” ujarnya.

Izzudin menjelaskan, pihaknya mengapresiasi jawaban yang telah disampaikan Termohon pada sidang sebelumnya. Jawaban tersebut menjadi bahan bagi tim kuasa hukum untuk menyusun tanggapan sekaligus memperjelas perbedaan argumentasi hukum antara kedua belah pihak.

Ia menambahkan, proses persidangan yang telah berjalan membuat tim kuasa hukum semakin mempersiapkan berbagai argumentasi dan dokumen pendukung untuk menghadapi tahapan hukum selanjutnya.

Menurutnya, kesiapan tersebut diperlukan agar setiap dalil yang disampaikan Pemohon dapat dipertanggungjawabkan berdasarkan argumentasi dan bukti yang relevan.

Meski demikian, tim kuasa hukum tetap berharap majelis hakim mengabulkan permohonan praperadilan yang telah diajukan. Harapan tersebut, kata Izzudin, tetap disertai penghormatan terhadap jalannya persidangan dan kewenangan hakim dalam mengambil keputusan.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa praperadilan merupakan forum bagi para pihak untuk menyampaikan dan menguji argumentasi hukum sesuai dengan ruang lingkup permohonan. Melalui mekanisme tersebut, setiap dalil dapat diperiksa secara proporsional berdasarkan ketentuan yang berlaku.

Izzudin juga berharap proses praperadilan ini dapat menjadi pembelajaran bagi semua pihak mengenai pentingnya menghormati prosedur hukum, baik dalam menjalankan proses penegakan hukum maupun dalam memberikan pendampingan kepada masyarakat.

“Proses ini tentu akan mendewasakan kita semua dalam melakukan maupun mendampingi proses hukum,” tuturnya.

Sidang ketiga dengan agenda penyampaian replik tersebut menjadi salah satu tahapan dalam rangkaian pemeriksaan praperadilan di Pati. Tim kuasa hukum Pemohon berharap seluruh proses persidangan berjalan dengan baik dan majelis hakim dapat mempertimbangkan permohonan berdasarkan fakta, bukti, serta argumentasi hukum yang disampaikan para pihak.

Hingga tahapan ini, proses pemeriksaan masih berlangsung dan keputusan mengenai permohonan praperadilan sepenuhnya menjadi kewenangan majelis hakim.

 

Dilansir dari Media Radartimpo.id

Kuasa Hukum H. Utomo Kritik Jawaban 20 Halaman Polresta Pati, Nilai Pokok Keberatan Belum Terjawab

PATI, Cakrawalajatim.news — Tim kuasa hukum H. Utomo menilai jawaban tertulis penyidik Polresta Pati dalam sidang praperadilan belum menjawab pokok keberatan yang mereka ajukan. Menurut pihak pemohon, dokumen setebal 20 halaman tersebut lebih banyak menguraikan kronologi perkara dan tahapan penyidikan, sementara persoalan mengenai dasar hukum serta bentuk surat penetapan tersangka dinilai belum mendapat tanggapan secara langsung.

Permohonan praperadilan ini diajukan untuk menguji keabsahan penetapan H. Utomo sebagai tersangka pada 18 Agustus 2026 dalam perkara dugaan pencurian mesin kapal KM Manis Sejahtera.

Dalam perkara tersebut, H. Utomo didampingi tim kuasa hukum dari Kantor Hukum Fatkhur Rahman, yang terdiri atas Fatkhur Rahman, S.H., S.Ag., M.H., Izzudin Arsalan, S.H., M.H., dan Karyono, S.H.

Kuasa Hukum Persoalkan Isi Surat Penetapan Tersangka

Dalam permohonannya, pihak H. Utomo mempersoalkan substansi surat penetapan tersangka. Pemohon menyebut surat tersebut telah mencantumkan dugaan tindak pidana pencurian, pasal yang disangkakan, waktu dan tempat kejadian, serta keterangan bahwa penyidik memiliki sedikitnya dua alat bukti.

Namun, menurut tim kuasa hukum, informasi tersebut belum menguraikan secara konkret perbuatan yang dituduhkan kepada H. Utomo.

Mereka mempertanyakan sejumlah hal, mulai dari siapa pemilik atau pihak yang berhak atas barang yang dipersoalkan, jenis mesin yang diduga diambil, nilai barang, cara peristiwa itu dilakukan, hingga peran H. Utomo dalam perkara tersebut.

Tim kuasa hukum juga menilai pencantuman Pasal 477 KUHP belum disertai penjelasan yang memadai mengenai ketentuan atau unsur yang dianggap dilanggar.

Menurut pemohon, pencantuman pasal, waktu, dan tempat kejadian saja belum cukup untuk menjelaskan secara terang tuduhan yang dihadapi tersangka. Mereka berpendapat bahwa uraian dalam surat penetapan seharusnya membantu tersangka memahami sangkaan serta mempersiapkan pembelaan.

Meski demikian, penilaian tersebut merupakan dalil pihak pemohon yang masih harus diuji berdasarkan jawaban termohon dan bukti-bukti dalam persidangan.

Pertanyakan Pencantuman Pasal 3 KUHP Nasional

Selain mempersoalkan isi surat penetapan tersangka, tim kuasa hukum juga menyoroti pencantuman Pasal 3 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP. Mereka menilai surat tersebut belum menjelaskan ketentuan spesifik yang menjadi dasar penerapan pasal tersebut.

“Berulang kali kami sampaikan bahwa salah satu yang menjadi dasar pertimbangan untuk menetapkan tersangka Pak Tomo ini dicantumkan Pasal 3 KUHP Nasional. Sementara Pasal 3 tersebut tidak dijelaskan ayat berapa,” kata Izzudin Arsalan seusai persidangan.

Izzudin juga mempertanyakan penggunaan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 21/PUU-XII/2014 sebagai salah satu dasar hukum dalam proses penetapan tersangka.

Menurut dia, putusan tersebut berkaitan dengan pengujian ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP).

“Putusan Mahkamah tersebut seharusnya menguji Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang KUHAP yang lama. KUHAP yang lama sudah dibatalkan melalui putusan tersebut dan putusan itu sudah diakomodir di dalam KUHAP yang baru,” ujarnya.

Pihak pemohon juga menyampaikan keberatan terhadap pencantuman sejumlah dasar hukum lainnya, termasuk aturan mengenai masa peralihan hukum pidana.

Mereka berpendapat bahwa penggunaan kewenangan penyidik harus memperhatikan prinsip kepastian hukum, kecermatan, serta larangan penyalahgunaan kewenangan.

Jawaban 20 Halaman Diserahkan Setelah Jeda Persidangan

Sidang praperadilan pada 8 Oktober 2026 mengagendakan pembacaan permohonan dan jawaban dari pihak termohon.

Menurut Izzudin, setelah permohonan dibacakan, penyidik Polresta Pati menyampaikan belum siap menyerahkan jawaban tertulis. Termohon kemudian diberi waktu hingga pukul 14.00 WIB untuk mempersiapkan jawabannya.

“Pukul 11 tadi termohon menyatakan belum siap terkait jawabannya. Pukul 2 ternyata termohon sudah menyatakan jawaban setebal 20 halaman,” kata Izzudin.

Ia menilai jawaban tersebut lebih banyak memuat uraian kronologi kejadian dan tahapan tindakan yang dilakukan penyidik. Sementara itu, keberatan pemohon mengenai dugaan kesalahan penerapan pasal serta persoalan formil dan yuridis dalam penetapan tersangka, menurutnya, belum dijawab secara langsung.

“Pada prinsipnya dalil jawaban dari termohon ini tidak ada yang membantah permohonan kami terkait salah penerapan pasal, cacat formil dan cacat yuridis penerapan pasal dalam penetapan tersangka Pak Tomo. Ini hanya jawaban terkait uraian kronologi peristiwa dan tahapan tindakan yang dilakukan oleh penyidik,” ujarnya.

Izzudin juga menyebut terdapat beberapa kesalahan penyebutan bulan dalam jawaban termohon. Menurut dia, kesalahan pada halaman 4, 5, dan 10 telah diperbaiki melalui renvoi atau koreksi dalam dokumen persidangan.

Meski menyampaikan sejumlah kritik, ia menegaskan bahwa tim kuasa hukum tetap menghormati proses pemeriksaan yang berlangsung.

“Pada prinsipnya kami sebagai pemohon menghormati proses. Apabila proses-proses seperti ini dibenarkan oleh hakim, ya kami mengikuti,” katanya.

Penilaian bahwa jawaban termohon belum menyentuh inti permohonan tersebut merupakan pandangan pihak pemohon. Penilaian akhir atas argumentasi masing-masing pihak berada pada kewenangan majelis hakim berdasarkan pemeriksaan persidangan.

Pemohon Pertanyakan Alat Bukti dan Dokumen Kepemilikan Kapal

Persoalan alat bukti juga menjadi bagian dari keberatan yang disampaikan pihak H. Utomo. Pemohon mempertanyakan dasar pernyataan penyidik yang menyebut telah memiliki sedikitnya dua alat bukti untuk menetapkan H. Utomo sebagai tersangka.

Mereka mengaku pernah meminta Berita Acara Penyitaan barang bukti ketika menjalani pemeriksaan di Polresta Pati. Namun, menurut pihak pemohon, permintaan tersebut tidak dipenuhi.

Keberatan itu disebut telah disampaikan melalui tim kuasa hukum dan dicatat dalam Berita Acara Pemeriksaan.

Dalam permohonannya, pihak H. Utomo juga mempersoalkan kedudukan pelapor dalam perkara tersebut. Laporan polisi bernomor LP/B/89/X/2025/SPKT/POLRESTA PATI/POLDA JAWA TENGAH, tertanggal 1 Oktober 2025, disebut dibuat oleh Siti Fatimah AL Zana Nur Fatimah alias Janah binti Arep.

Pemohon menyatakan telah menyerahkan sejumlah dokumen yang menurut mereka berkaitan dengan kepemilikan atau hak atas objek perkara. Dokumen tersebut meliputi Grosse Akta Hipotek, Grosse Akta Pendaftaran Kapal, dokumen perubahan data kapal, surat Bank Jateng mengenai jaminan kredit kapal, serta dokumen pembelian sejumlah mesin dan komponen.

Berdasarkan dokumen-dokumen tersebut, pemohon mempertanyakan apakah pelapor memiliki hak atas objek yang dilaporkan.

Namun, persoalan mengenai kedudukan pelapor dan status kepemilikan barang tersebut masih merupakan argumentasi pihak pemohon yang perlu dinilai berdasarkan bukti serta ruang lingkup pemeriksaan praperadilan.

Minta Penetapan Tersangka Dinyatakan Tidak Sah

Dalam petitumnya, H. Utomo meminta majelis hakim menyatakan penetapan dirinya sebagai tersangka tidak sah dan tidak memiliki kekuatan hukum mengikat.

Pemohon juga meminta agar tindakan lanjutan yang menurut mereka berkaitan dengan penetapan tersebut, termasuk penangkapan, penahanan, penggeledahan, dan penyitaan, dinyatakan tidak sah.

Menurut pihak pemohon, permintaan tersebut didasarkan pada ketentuan hukum acara pidana mengenai akibat hukum apabila penetapan tersangka dinyatakan tidak sah. Mereka berpendapat bahwa keabsahan tindakan lanjutan yang bergantung pada penetapan tersebut juga perlu diperiksa.

Hingga persidangan tersebut, belum ada putusan majelis hakim mengenai sah atau tidaknya penetapan H. Utomo sebagai tersangka.

Dalil pemohon, jawaban tertulis penyidik selaku termohon, serta bukti-bukti yang diajukan para pihak masih menjadi bagian dari proses pemeriksaan praperadilan.

Putusan majelis hakim nantinya akan menentukan apakah permohonan tersebut dikabulkan, ditolak, atau diputus berdasarkan pertimbangan hukum lainnya.

 

Dilansir dari Media Radartempo.id

Peredaran Sabu dari Bangkalan ke Surabaya Terungkap, Satresnarkoba Polres Tanjung Perak Kejar Pemasok

SURABAYA, Cakrawalajatim.news – Satresnarkoba Polres Pelabuhan Tanjung Perak menggagalkan peredaran narkotika jenis sabu lintas daerah seberat 95,44 gram. Dalam pengungkapan ini, petugas mengamankan seorang pria berinisial AY (43) di kediamannya yang berlokasi di Jalan Joyoboyo.

Kasat Resnarkoba Polres Pelabuhan Tanjung Perak, AKP Adik Agus Putrawan menjelaskan penangkapan tersangka yang diduga kuat berperan sebagai perantara dalam jaringan peredaran gelap narkotika tersebut.

“Petugas berhasil mengamankan tersangka AY di dalam rumahnya. Saat penggeledahan, kami menemukan 10 klip plastik berisi sabu dengan total berat bruto 95,44 gram yang disembunyikan di dalam tas di kamar tersangka,” ujar AKP Adik, Kamis (8/10/2026) malam.

Barang bukti yang disita meliputi satu kantong plastik sedang berisi sabu seberat 44,80 gram, sembilan klip plastik kecil berisi sabu seberat 50,64 gram, satu bendel plastik klip, sebuah sendok takar plastik, serta satu unit telepon seluler yang digunakan untuk bertransaksi.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, penangkapan pada Rabu (23/9/2026) ini berawal dari pengambilan barang haram melalui sistem ranjau.

Pada hari yang sama sekitar pukul 04.30 WIB, tersangka AY mengambil pasokan sabu di area pertigaan Parseh, Kabupaten Bangkalan, Madura, dari seseorang berinisial RSD yang kini berstatus daftar pencarian orang (DPO).

“Tersangka mendapat pasokan barang dari RSD untuk diedarkan kembali. Cara penjualannya dilakukan dengan menawarkan langsung kepada rekan-rekannya maupun melayani pembeli arahan dari RSD menggunakan sistem ranjau di lokasi yang telah ditentukan,” jelas AKP Adik.

Pihak kepolisian turut mengungkap bahwa aksi terlarang ini telah dilakoni AY sejak satu tahun lalu. Paket sabu tersebut diecer dengan harga bervariasi, mulai dari Rp100.000 hingga Rp800.000 per paket hemat.

“Motif utama tersangka adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dari setiap tahapan edar, tersangka dijanjikan keuntungan tunai sebesar Rp7.500.000 oleh RSD, sekaligus bisa mengonsumsi sabu secara gratis,” pungkasnya.

Saat ini tersangka AY beserta seluruh barang bukti telah diamankan untuk proses penyidikan lebih lanjut, sementara penyidik terus bergerak mengejar keberadaan RSD guna membongkar jaringan di atasnya.

 

Penulis, Ibad / Editor, Redaksi

Tidak Ada Lagi Postingan yang Tersedia.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.