Bareskrim Ungkap Penyalahgunaan LPG Bersubsidi di Sidoarjo, Sita 1.820 Tabung dan Tetapkan Dua Tersangka

SIDOARJO, Cakrawalajatim.news – Direktorat Tindak Pidana Tertentu (Dittipidter) Bareskrim Polri mengungkap praktik penyalahgunaan LPG bersubsidi melalui pemindahan isi tabung secara ilegal di Desa Kendal Pecabean, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Kamis (22/10/2026).

Dalam pengungkapan tersebut, Polisi menyita sebanyak 1.820 tabung LPG berbagai ukuran dan menetapkan dua orang sebagai tersangka.

Kasubdit 1 Dittipidter Bareskrim Polri, AKBP Wahyu Norman H., menjelaskan, petugas awalnya mengamankan tujuh orang yang berada di lokasi untuk menjalani pemeriksaan. Setelah dilakukan pemeriksaan secara intensif, penyidik menetapkan dua orang berinisial EPPS dan SO sebagai tersangka.

“Petugas mengamankan 1.820 tabung LPG, terdiri atas 1.187 tabung ukuran 3 kilogram, 583 tabung ukuran 12 kilogram, dan 50 tabung ukuran 50 kilogram, baik dalam kondisi berisi maupun kosong,” ujar AKBP Wahyu.

Selain ribuan tabung LPG, Polisi juga menyita sejumlah barang bukti lainnya berupa empat unit kendaraan roda empat, 53 selang regulator, dua timbangan digital, serta satu kardus segel tabung LPG berbagai ukuran.

Berdasarkan hasil pendalaman sementara, aktivitas ilegal tersebut diduga telah berlangsung sejak Juni hingga Oktober 2026.

Dari lokasi tersebut, para pelaku diperkirakan mampu memproduksi rata-rata 2.400 tabung LPG ukuran 12 kilogram dan 40 tabung ukuran 50 kilogram setiap bulan.

LPG hasil pemindahan isi tabung secara ilegal tersebut diduga dipasarkan di sejumlah wilayah di Jawa Timur hingga luar Pulau Jawa, termasuk Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB).

Berdasarkan perhitungan sementara penyidik, dengan asumsi aktivitas tersebut telah berlangsung selama empat bulan penuh, potensi kerugian negara akibat penyalahgunaan subsidi diperkirakan mencapai Rp2.149.440.000 atau sekitar Rp2,1 miliar.

Nilai tersebut masih berupa estimasi dan akan didalami lebih lanjut dalam proses penyidikan.

Sementara itu, Direktur Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Polri, Brigjen Pol. Mohammad Irhamni, menegaskan bahwa pengungkapan kasus di Sidoarjo tersebut merupakan bagian dari komitmen Polri dalam memberantas penyalahgunaan LPG bersubsidi agar distribusinya tepat sasaran dan benar-benar diterima masyarakat yang berhak.

Brigjen Pol. Mohammad Irhamni menyampaikan, secara nasional Dittipidter Bareskrim Polri telah menangani sekitar 777 kasus penyalahgunaan LPG bersubsidi dengan jumlah tersangka sekitar 600 orang.

“Gas LPG bersubsidi ini diperuntukkan bagi masyarakat kurang mampu untuk meringankan beban ekonomi. Seharusnya subsidi ini tepat sasaran, tetapi faktanya masih ada oknum yang menyalahgunakannya demi keuntungan pribadi,” kata Brigjen Irhamni.

Ia menambahkan, penyidik juga akan mendalami kemungkinan penerapan tindak pidana pencucian uang (TPPU) apabila dalam proses penyidikan ditemukan alat bukti yang mendukung.

Pada kesempatan yang sama, Kabid Humas Polda Jawa Timur, Kombes Pol. Jules Abraham Abast, menegaskan Polda Jatim mendukung penuh langkah penegakan hukum yang dilakukan Dittipidter Bareskrim Polri terhadap penyalahgunaan LPG bersubsidi.

“Pengawasan terhadap distribusi barang bersubsidi sangat penting karena LPG bersubsidi merupakan hak masyarakat yang memenuhi kriteria penerima. Penyalahgunaan distribusi dapat merugikan masyarakat dan mengganggu ketepatan sasaran program pemerintah,” ujar Kombes Pol. Abast.

Ia juga mengajak masyarakat turut berperan dalam mengawasi distribusi LPG bersubsidi di lingkungannya.

“Kami mengimbau masyarakat membeli LPG melalui pangkalan resmi dan segera melaporkan kepada kepolisian atau instansi terkait apabila menemukan indikasi penyalahgunaan maupun distribusi yang tidak sesuai ketentuan,” pungkas Kombes Pol. Abast.

Dalam perkara ini, penyidik menerapkan Pasal 55 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, sebagaimana diubah melalui Pasal 40 angka 9 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Cipta Kerja, juncto Pasal 20 huruf c Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).

Hingga saat ini, penyidik masih melakukan pendalaman terhadap peran masing-masing tersangka, asal-usul pasokan LPG, mekanisme pemindahan isi tabung, aliran hasil kejahatan, serta jaringan distribusi yang berkaitan dengan perkara tersebut.

5,65 Gram Sabu Diamankan di Surabaya, Satresnarkoba Tanjung Perak Telusuri Pemasok Berinisial MDR

SURABAYA, Cakrawalajatim.news – Upaya pemberantasan peredaran narkotika di Kota Surabaya kembali membuahkan pengungkapan kasus. Satuan Reserse Narkoba Polres Pelabuhan Tanjung Perak mengamankan seorang pria berinisial E.S. (36), warga Jalan Jatisrono Timur, Surabaya, dalam perkara dugaan peredaran narkotika jenis sabu dengan barang bukti mencapai 5.650 gram atau sekitar 5,65 kilogram.

Pengungkapan tersebut turut membuka sejumlah fakta awal mengenai dugaan pola transaksi, mekanisme pembayaran, hingga keuntungan yang disebut dijanjikan kepada tersangka. Polisi kini memiliki sejumlah barang bukti yang akan diteliti untuk mendukung proses penyidikan.

Kasat Narkoba Polres Pelabuhan Tanjung Perak, AKP Adik Agus Putrawan, S.H., M.H., menerangkan bahwa berdasarkan keterangan awal tersangka, sabu tersebut diduga diperoleh dari seseorang berinisial MDR.

Transaksi disebut berlangsung pada Rabu (14/10/2026), sekitar pukul 19.00 WIB, di depan sebuah toko di Jalan Tambaksari, Surabaya.

Dalam keterangannya kepada penyidik, E.S. disebut menerima barang melalui modus transaksi ranjau. Barang diduga diletakkan di samping pohon dengan menggunakan bungkus rokok mild berwarna merah sebagai wadah.

Sistem pembayaran yang disepakati juga menjadi bagian dari penyidikan. Tersangka disebut baru menyetorkan pembayaran setelah seluruh sabu yang diterimanya habis terjual.

Diduga Jalankan Peredaran Selama Sekitar Satu Minggu

Berdasarkan keterangan awal yang diperoleh penyidik, E.S. diduga baru menjalankan aktivitas mengedarkan sabu selama kurang lebih satu minggu sebelum diamankan.

Narkotika tersebut disebut dipasarkan dalam beberapa variasi paket, mulai dari paket sekitar satu gram, 1,5 gram, hingga paket hemat dengan harga Rp100 ribu.

Penyidik juga mendalami keterangan mengenai keuntungan yang diduga diterima tersangka. E.S. disebut dijanjikan keuntungan sekitar Rp1 juta apabila berhasil menjual sabu tersebut, sekaligus memperoleh sabu secara cuma-cuma untuk dikonsumsi sendiri.

Keterangan mengenai durasi aktivitas, sistem pembayaran, dan keuntungan tersebut masih perlu dicocokkan dengan barang bukti serta hasil pemeriksaan lebih lanjut.

Sebelas Klip Sabu dan Sejumlah Peralatan Disita

Dalam perkara ini, petugas mengamankan satu kotak tanpa merek yang berisi 11 klip plastik berisi sabu dengan berat bruto sekitar 5.650 gram.

Selain narkotika, polisi turut menyita satu bendel plastik klip ukuran sedang tanpa isi, satu bendel plastik klip ukuran kecil tanpa isi, satu serok sabu berbahan plastik, satu timbangan elektrik tanpa merek berwarna perak-hitam, serta satu alat pres berwarna biru dengan merek Q2.

Keberadaan sejumlah peralatan tersebut menjadi bagian dari materi pemeriksaan untuk mendalami dugaan aktivitas pengemasan dan distribusi narkotika.

Polisi juga perlu mengembangkan penyidikan guna menelusuri asal barang, jalur penyaluran, serta kemungkinan adanya pihak lain yang berkaitan dengan perkara tersebut. Sosok berinisial MDR yang disebut dalam keterangan tersangka menjadi salah satu informasi yang perlu didalami lebih lanjut.

Penyidikan Berlanjut, Tersangka Terancam Pasal Narkotika

Dalam perkara ini, E.S. disangkakan melanggar Pasal 114 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, dengan sangkaan subsider Pasal 609 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana juncto Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana.

Penerapan pasal tersebut berkaitan dengan dugaan peredaran maupun penguasaan narkotika secara melawan hukum, sesuai unsur yang harus dibuktikan dalam proses peradilan.

Pengungkapan ini sekaligus menempatkan pengembangan perkara sebagai hal penting untuk memastikan asal-usul barang bukti dan kemungkinan keterlibatan pihak lain dapat ditelusuri secara menyeluruh.

Penanganan kasus selanjutnya menjadi kewenangan penyidik sesuai prosedur hukum yang berlaku. Sementara itu, status E.S. masih sebagai tersangka dan dugaan tindak pidana yang disangkakan harus dibuktikan melalui proses peradilan.

Dari Putat Jaya hingga Simomulyo Baru, 55 Adegan Rekonstruksi Pembunuhan Digelar Polrestabes Surabaya

Surabaya, Cakrawalajatim.news — Penyidik memperagakan 55 adegan dalam rekonstruksi perkara dugaan pembunuhan terhadap S.N. (51) di Surabaya. Sebanyak 44 adegan diperagakan di rumah kontrakan korban di kawasan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan. Sebelas adegan lainnya berlangsung di lokasi yang disebut sebagai tempat pembuangan barang bukti di kawasan Simomulyo Baru, Kecamatan Sukomanunggal.

Perkara ini berawal dari laporan polisi tertanggal 25 Juni 2026. Dalam keterangan yang disampaikan melalui Kasi Humas Polrestabes Surabaya AKP Hadi Ismanto, Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Luthfi Sulistiawan menjelaskan bahwa peristiwa tersebut terjadi pada 24 Juni 2026, sekitar pukul 07.00 hingga 08.00 WIB.

MenurutKoapolrestabes Surabaya Kombes pol Luthfi Sulistiawan melalui Kasi Humas AKP Hadi Ismanto, tersangka berinisial M.K.A. datang ke kontrakan korban untuk menagih utang sebesar Rp1 juta. Tersangka disebut membutuhkan uang tersebut sebagai modal untuk berangkat ke Malaysia.

Korban menyampaikan belum dapat membayar. Tersangka kemudian menawarkan agar korban menggadaikan ponsel atau emasnya. Saat korban tidak menuruti permintaan itu, tersangka diduga mengambil pisau yang berada di belakang lemari dan menggunakannya untuk mengancam korban.

Hadi menyebut terjadi dorong-mendorong ketika tersangka berusaha mengambil ponsel korban. Pisau yang dibawa tersangka kemudian mengenai dada kiri korban. Setelah korban berteriak meminta pertolongan, tersangka diduga menusuk korban berkali-kali hingga korban meninggal dunia.

“Jumlah penusukan diperkirakan sekitar 14 kali. Rincian adegan dan tindakan yang diperagakan dalam rekonstruksi menjadi bagian dari proses penyidikan untuk menguji kesesuaian keterangan dengan hasil pemeriksaan dan barang bukti,” tutur AKP Hadi, pada Rabu (21/10).

Hadi menyatakan tersangka diduga meninggalkan Indonesia melalui Pelabuhan Dumai menuju Port Dickson, Negeri Sembilan, Malaysia. Informasi tersebut dicocokkan dengan keterangan saksi yang merupakan adik korban dan data perlintasan imigrasi.

“Tim Jatanras Polrestabes Surabaya kemudian berkoordinasi dengan Divisi Hubungan Internasional Polri, yang meneruskan koordinasi kepada Kepolisian Diraja Malaysia. Tersangka selanjutnya diamankan di Selangor dan diserahkan ke Jakarta untuk dibawa ke Polrestabes Surabaya,” katanya.

Dalam perkara itu, Hadi mencatat sejumlah barang bukti, antara lain hasil visum, rekaman CCTV, ponsel OPPO, kain selimut, keset yang terdapat bercak darah, gayung, serta bungkus rokok yang ditemukan di lokasi kejadian.

Tersangka disangkakan melanggar Pasal 458 subsider Pasal 468 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP. Pasal tersebut masih merupakan sangkaan dalam proses hukum; penentuan kesalahan dan pertanggungjawaban pidana menjadi kewenangan pengadilan.

Polres Gresik Ungkap Jaringan Sabu di Menganti, Tersangka Pengedar dan 31,811 Gram Sabu Diamankan

GRESIK, Cakrawalajatim.news – Satresnarkoba Polres Gresik Polda Jatim berhasil membongkar jaringan peredaran narkotika jenis sabu di wilayah Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik. Dari operasi tersebut, Polisi mengamankan 12 orang dan menyita puluhan paket sabu dengan total berat bersih mencapai 31,811 gram.

Jaringan ini terungkap berkat laporan masyarakat yang masuk melalui “Cak Rama”, sebuah layanan pengaduan resmi milik Polres Gresik.

Kapolres Gresik, AKBP Ramadhan Nasution, menyatakan bahwa informasi dari warga menjadi pintu masuk utama bagi petugas untuk melakukan penyelidikan mendalam.

“Informasi tersebut langsung kami tindak lanjuti dengan penyelidikan di lapangan hingga berhasil mengungkap seluruh jaringan ini,” kata AKBP Ramadhan, Senin (19/10/2026).

Operasi senyap ini bermula pada sore hari sekitar pukul 16.30 WIB. Petugas menggerebek rumah milik MAR (24) di Desa Sidowungu, Kecamatan Menganti.

Di lokasi tersebut, polisi menemukan 10 paket sabu serta mendapati enam orang yang diduga sedang membeli atau menggunakan barang haram tersebut.

Tak berselang lama, sekitar pukul 17.00 WIB, petugas meringkus AI (23) yang baru saja tiba di rumah MAR. Saat digeledah, polisi menemukan 13 plastik klip berisi sabu yang disembunyikan di saku jaketnya.

Pengembangan kasus terus berlanjut hingga malam hari. Pada pukul 21.30 WIB, petugas menangkap seorang sopir truk ekspedisi berinisial AFR (29) di rumah kosnya di Desa Setro dengan barang bukti dua paket sabu.

Satu jam kemudian, sekitar pukul 22.30 WIB, polisi menciduk MAG (37) di Desa Sidojangkung yang diduga kuat berperan sebagai pemasok sabu kepada MAR. Dari tangan MAG, disita dua paket sabu.

Rangkaian penangkapan malam itu ditutup dengan ringkusnya RA (39) di Desa Gempolkurung yang juga kedapatan menguasai dua paket sabu.

“Dari rangkaian pengungkapan ini, kami berhasil memutus mata rantai jaringan peredaran dan penyalahgunaan narkotika yang melibatkan sejumlah desa di Kecamatan Menganti,” jelas AKBP Ramadhan.

Dari total 12 orang yang diamankan, 7 orang di antaranya diajukan untuk menjalani asesmen rehabilitasi di BNNK Gresik karena dikategorikan sebagai pengguna. Sementara 5 orang lainnya resmi ditetapkan sebagai tersangka pengedar dan kini ditahan di Rutan Polres Gresik untuk penyidikan lebih lanjut.

Selain menyita 30 plastik klip sabu seberat 31,811 gram, Polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti lain. Di antaranya berupa enam timbangan elektrik, 10 potong sedotan plastik, tiga bungkus plastik klip kosong, empat unit handphone, dua alat hisap (bong), uang tunai Rp1,45 juta, serta satu unit sepeda motor Yamaha Mio.

Atas perbuatannya, para tersangka dijerat dengan Pasal 114 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman pidana penjara yang berat.

Di akhir penjelasannya, Kapolres Gresik mengimbau masyarakat untuk tidak takut melapor jika melihat aktivitas mencurigakan di lingkungan mereka. Warga dapat memanfaatkan Call Center Polri 110 atau langsung menghubungi layanan Lapor Cak Rama di nomor 0811-8800-2006.

Unit Reskrim Polsek Wonocolo Ungkap Curanmor Bermodus Kunci T di Wonocolo, Satu Tersangka dan Satu Buron

SURABAYA, Cakrawalajatim.news – Aksi pencurian kendaraan bermotor (curanmor) di kawasan Sidosermo, Surabaya, berujung penangkapan. Unit Reskrim Polsek Wonocolo, Polrestabes Surabaya, mengungkap dugaan pencurian sepeda motor yang dilakukan dengan menggunakan kunci T untuk merusak kunci setang.

Seorang pria berinisial SN (42), warga Desa Burajeh, Kecamatan Robatal, Kabupaten Sampang, Madura, telah ditetapkan sebagai tersangka. Sementara itu, seorang lainnya berinisial MM masih dalam pengejaran petugas, berdasarkan keterangan yang disampaikan dalam perkara tersebut.

Kapolsek Wonocolo Surabaya, Kompol Haryoko Widhi, mengatakan pencurian itu terjadi di Jalan Sidosermo II Blok I Nomor 22, Surabaya.

Menurut Haryoko, kejadian bermula saat SN bersama MM berangkat dari wilayah Sampang, Madura, menggunakan sepeda motor Honda Vario bernomor polisi M 6221 NO. Keduanya kemudian berkeliling untuk mencari kendaraan yang bisa dijadikan sasaran.

“Mereka kemudian berkeliling untuk mencari sasaran. Saat melintas di kawasan Sidosermo, mereka diduga melihat sebuah sepeda motor terparkir di samping rumah,” kata Haryoko, Jumat (16/10/2026).

Setelah melihat sepeda motor yang terparkir, MM diduga turun dan merusak kunci setang menggunakan kunci T. Di sisi lain, SN disebut tetap berada di atas motor yang mereka gunakan sambil memantau keadaan sekitar.

Setelah berhasil mengambil sepeda motor Honda Beat tahun 2020 berwarna putih, MM diduga membawa kendaraan tersebut. SN kemudian diminta membantu mendorong motor dari belakang.

Namun, gerak-gerik keduanya diketahui warga sekitar. Teriakan maling pun mengundang perhatian masyarakat dan membuat upaya melarikan diri mereka terhambat.

“Dalam kejadian tersebut, MM berhasil ditangkap warga bersama anggota piket pundi yang berpatroli, sedangkan SN melarikan diri,” ujar Haryoko.

Polisi Amankan Kunci T dan Dua Sepeda Motor, Dalam pengungkapan kasus tersebut, polisi mengamankan sejumlah barang bukti yang diduga berkaitan dengan tindak pencurian.

Barang bukti itu meliputi satu buah kunci T, satu unit Honda Beat tahun 2020 berwarna putih dengan nomor polisi L 3593 WR yang dilaporkan sebagai kendaraan hasil pencurian, serta satu unit Honda Vario bernomor polisi M 6221 NO yang diduga digunakan sebagai sarana.

Berdasarkan dokumen kendaraan yang disebutkan dalam laporan kepolisian, Honda Beat yang menjadi sasaran pencurian tercatat atas nama Kusnen.

Penyidikan Berlanjut, Perkara tersebut ditangani Polsek Wonocolo sebagai dugaan tindak pidana pencurian dengan pemberatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 477 ayat (2) KUHP, sesuai keterangan dalam laporan kepolisian.

Penyidik masih melakukan serangkaian proses hukum, di antaranya memeriksa saksi dan tersangka, melengkapi administrasi penyidikan, serta memproses barang bukti untuk kepentingan penanganan perkara.

Kepolisian juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan saat memarkir kendaraan, terutama di lingkungan rumah. Penggunaan kunci pengaman tambahan dan pemilihan lokasi parkir yang aman dapat menjadi langkah pencegahan untuk meminimalkan risiko pencurian kendaraan bermotor.

Polres Tanjung Perak Amankan 19 Orang di Jalan Kunti, 17 Orang Jalani Rehabilitasi

SURABAYA, Cakrawalajatim.news – Polres Pelabuhan Tanjung Perak mengambil langkah tegas sekaligus humanis usai menggelar operasi penindakan peredaran gelap narkotika di kawasan Kampung Kunti, Kelurahan Sidotopo, Kecamatan Semampir. Dari belasan orang yang diamankan, sebanyak 17 orang dipastikan menjalani proses rehabilitasi medis dan sosial.

Keputusan rehabilitasi tersebut disampaikan langsung oleh Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak, AKBP Irwan Kurniawan, dalam konferensi pers yang digelar di Surabaya, Rabu (14/10/2026).

Operasi yang berlangsung di pemukiman padat penduduk itu menyasar titik-titik rawan peredaran barang haram. Petugas mengamankan total 19 orang dari lokasi kejadian untuk menjalani pemeriksaan mendalam serta tes urine di tempat.

AKBP Irwan Kurniawan menjelaskan, pemeriksaan medis menunjukkan 15 orang positif mengonsumsi narkoba, sedangkan 4 orang lainnya dinyatakan negatif. Kendati demikian, dua dari empat warga berstatus negatif urine tersebut terbukti menguasai barang bukti sabu-sabu seberat 0,35 gram.

Atas dasar temuan medis dan barang bukti itu, kepolisian mengambil tindakan mengacu pada regulasi hukum yang berlaku demi memulihkan para pengguna.

“Berdasarkan Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) Nomor 4 Tahun 2010, sebanyak 17 orang akan dilakukan Tim Asesmen Terpadu (TAT) sesuai prosedur melalui BNNK Surabaya untuk menjalani rehabilitasi,” kata AKBP Irwan Kurniawan.

Sementara itu, dua orang sisanya yang dinyatakan negatif tes urine dan tidak terbukti menyimpan barang bukti langsung dipulangkan.

“Dua orang lainnya dikembalikan kepada pihak keluarga karena hasil urine negatif dan tidak ditemukan barang bukti,” ujar Irwan.

Selain mengamankan belasan warga, petugas gabungan juga menyita barang bukti operasional peredaran narkoba dalam jumlah signifikan dari lokasi penindakan.

Barang bukti itu meliputi 52 poket klip kecil berisi sabu-sabu siap edar, 54 buah alat hisap (bong), 3 unit timbangan digital, 26 pipet kaca, 2 buah brankas, 1 buah cash box, dan 2 buah buku rekapan transaksi.

Petugas juga mengamankan 11 unit telepon seluler, 1 unit mesin pres, 29 skrop plastik, 56 klip plastik sisa pakai, 39 korek api gas, 1 karung klip plastik kosong, serta 8 buah senjata tajam.

Penindakan tajam di lapangan dipastikan bukan akhir dari upaya pemberantasan jaringan barang haram tersebut. Kepolisian berkomitmen mengejar aktor utama penyedia barang di balik kawasan Kampung Kunti.

“Kami tidak berhenti sampai di sini dengan melakukan penindakan dan penegakan hukum saja. Kami berkomitmen akan tetap melakukan pengembangan sampai ke akar-akarnya terkait peredaran dan penyalahgunaan narkoba tersebut,” tutur Kapolres Tanjung Perak tersebut.

Guna memutus rantai peredaran agar tidak kembali marak, kepolisian bersama instansi terkait langsung mendirikan dua pos pengawasan di lokasi.

“Kami sudah mendirikan dua pos di lokasi sebagai antisipasi dan tindak lanjut ke depannya. Pos tersebut bersifat situasional dan tidak menutup kemungkinan akan dibuat secara permanen,” jelas Irwan.

Pos pengawasan tersebut akan dijaga secara bergiliran oleh personel gabungan dari Polres dan Polsek Pelabuhan Tanjung Perak, Brimobda Polda Jatim, serta Satpol PP Kota Surabaya. Keberadaan petugas juga disokong oleh partisipasi aktif tokoh masyarakat dan perangkat RT/RW setempat.

Patroli rutin berskala besar akan terus digencarkan secara sinergis oleh Polres Pelabuhan Tanjung Perak, Pemkot Surabaya, dan BNNK Surabaya. Langkah lintas instansi ini berfokus pada pendekatan pre-emtif, preventif, serta represif guna mewujudkan wilayah Kampung Bersinar atau Bersih dari Narkoba.

Kegiatan konferensi pers tersebut turut dihadiri oleh Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kota Surabaya, Ahmad Zaini, serta Kepala BNNK Surabaya, Kombes Pol. Heru Prasetyo.

Tidak Ada Lagi Postingan yang Tersedia.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.