SURABAYA, Cakrawalajatim.news β Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polres Pelabuhan Tanjung Perak kembali mengungkap jaringan peredaran sabu di Surabaya. Seorang pria berinisial TWS (29), warga Jalan Bratang, diamankan karena diduga menjadi kurir sekaligus perantara distribusi narkotika dengan sistem “ranjau”. Sementara itu, bandar yang diduga mengendalikan jaringan tersebut, berinisial KING, masih masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO).
Kasatresnarkoba Polres Pelabuhan Tanjung Perak AKP Adik Agus Putrawan, S.H., M.H., didampingi Kasi Humas, menjelaskan bahwa penangkapan dilakukan pada Rabu (1/7/2026) sekitar pukul 22.00 WIB di sebuah rumah di kawasan Surabaya. Pengungkapan kasus ini merupakan hasil penyelidikan terhadap aktivitas peredaran sabu yang menggunakan metode transaksi tanpa tatap muka.
Dari hasil pemeriksaan, TWS diduga bertugas mengambil paket sabu dari lokasi yang telah ditentukan, kemudian meletakkannya kembali di sejumlah titik sesuai arahan bandar. Modus tersebut dikenal sebagai sistem “ranjau”, yakni barang diletakkan di lokasi tertentu untuk diambil pembeli tanpa adanya pertemuan langsung antara penjual dan pembeli.
Penyidik mengungkapkan, komunikasi antara tersangka dengan bandar dilakukan melalui aplikasi pesan terenkripsi Zangi. Berdasarkan keterangan tersangka, seluruh barang bukti yang dibawanya merupakan milik KING.
Dalam salah satu instruksinya, KING memerintahkan TWS mengambil 12 paket sabu yang disembunyikan di wilayah Bratang. Dari jumlah tersebut, dua paket diberikan kepada tersangka sebagai imbalan sekaligus untuk digunakan sendiri, sedangkan 10 paket lainnya diperintahkan untuk disebar di sejumlah lokasi, di antaranya Jemur Sari, Margorejo, Pucang, dan Deltasari.
Namun sebelum seluruh paket berhasil ditempatkan, petugas lebih dulu melakukan penyergapan sehingga tersangka beserta barang bukti berhasil diamankan.
Polisi juga mengungkap bahwa TWS merupakan residivis kasus narkotika. Ia pernah menjalani hukuman penjara selama dua tahun enam bulan pada 2023. Meski telah menyelesaikan masa pidananya, tersangka diduga kembali terlibat dalam jaringan peredaran sabu.
Kepada penyidik, TWS mengaku memperoleh bayaran sebesar Rp20 ribu untuk setiap paket yang berhasil ditempatkan sesuai perintah bandar. Selain menerima uang, ia juga mendapatkan sabu secara cuma-cuma sebagai tambahan imbalan.
Dalam pengungkapan tersebut, Satresnarkoba menyita 12 klip plastik berisi sabu dengan berat bruto sekitar 12,18 gram, satu kotak telepon seluler, serta satu unit telepon genggam yang diduga digunakan untuk berkomunikasi dengan bandar.
Atas perbuatannya, tersangka dijerat Pasal 114 ayat (2) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Dengan barang bukti yang melebihi lima gram, ancaman pidana yang dikenakan tergolong berat apabila seluruh unsur tindak pidana terbukti di persidangan.
Sementara itu, penyidik masih terus mengembangkan kasus tersebut guna memburu KING yang diduga sebagai pengendali utama jaringan. Polisi juga menelusuri kemungkinan adanya pelaku lain yang terlibat dalam distribusi maupun penyediaan sabu di wilayah Surabaya.
Penulis, Ibad – Editor, Redaksi












